Muhammad Khalifa Al-Rasyid
Tuesday, March 07, 2006
Saturday, February 25, 2006
Jum'at, 25 Muharram 1427 H
Tak Selalu Perlu Awal Yang Indah
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Apa jadinya kalau aktivitas hari ini diawali dengan beberapa masalah? Terkenang wajah suram ibu, terngiang pendapat sinis ayah, terbayang sikap dingin dari istri tercinta, atau segala hal kecil maupun besar yang terbenam sebagai kesedihan dalam hati dan pikiran. Salah satu hal yang terpikirkan mungkin adalah "Alangkah sedihnya hari ini. Mengapa baru awal saja sudah seperti ini?"
Lalu bagaimanakah kisah selanjutnya? Bagaimanakah pengaruh masalah yang hadir di awal perjalanan itu? Berapakah dari sekian insan yang terhanyut kekesalan dan kesedihan karenanya? Berapa banyak manusia yang harinya hancur tak berguna karena tak sanggup mengendalikan hatinya? Lalu berapakah orang yang mengerti akan diri dan masalahnya? Berapa orang yang mampu mengendalikan diri dan hati hingga mendapati harinya terisi kebajikan meskipun hatinya sedang luka?
Lalu di golongan manakah diriku? Adakah aku orang tergolong yang mengerti atau orang yang belum tahu?
Sesungguhnya aku lebih senang bila sikap baikku tidak terganggu oleh masalahku. Aku lebih bersyukur bila senyumku masih ada dan produktivitasku tidak tergganggu. Intinya, alangkah bahagianya bila semua masalah bisa diminimalisir pengaruhnya bagi ibadah.
Hmm... tapi nyatanya tidak selamanya manusia punya kekuatan mengendalikan diri. Lebih tepatnya diberiNya kekuatan untuk mengendalikan diri. Tapi itu bukan alasan untuk berhenti berusaha, bukan? Bukankah kekuatan dariNya itu mengikut persangkaan kita? Ya, dengan mengingat Dia akan memberi kekuatan, maka kekuatan itu akan datang. Sebaliknya bila kita lupa akan Dia? Entah kekuatan apa yang datang. Semoga bukan kekuatan dahsyat iblis dan bangsanya yang membuat kehidupan manusia menjadi runyam.
Nah, bagaimana kalo sudut pandangnya diubah? Setiap kali ada masalah yang dihadapi, harusnya pikiran bukan fokus pada masalah. Tetapi, fokus bahwa kita sedang diberiNya kekuatan untuk menghadapi banyak hal besar hari ini. Ya, rasanya itu lebih baik. Memikirkan hal baik tentu lebih baik daripada memikirkan masalah. Rasanya dengan bekal kebaikan itu, jalan keluar pasti ada. Bersangka baik akan mendatangkan kesabaran, kesabaran akan mendatangkan ketenangan hati, ketenangan hati akam mampu menunjukkan akar masalah, dengan dengan tahu sejatinya masalah maka solusi mudah dirumuskan dan selanjutnya diimplementasikan. Rasanya lebih tepat kalau masalah pun perlu disambut dengan senyum :-)
Kapan masa itu akan mulai ya? Semoga segera.
Alhamdulillaahirabbil'aalamiin.
Friday, February 24, 2006
Kamis, 24 Muharram 1427 H,
Kurangi Cela
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Setiap hari selalu ada hal yang mengecewakan, membuat kesal, jengkel, dan bahkan marah. Mulai dari hal jalanan yang rusak, sikap pengguna lain yang main seruduk, orang lain yang tidak mau mengalah, dll. Akibatnya begitu buruk. Mulai dari senyum menjadi sirna, muka jadi masam, bahkan tidak jarang kata umpatan bisa keluar setelah begitu berat dicegah. Astaghfirullaah.
Padahal kalau semua dosa itu sudah selesai dilakukan, yang tinggal hanyalah kesedihan dan penyesalan. :( Pertama, karena ingat akan dosa yang sudah dituai. Kedua, karena tidak mampu mengenali dan mengontrol diri sendiri. Kalau sudah begitu, satu-satunya hal yang bisa dilakukan hanyalah beristighfar dan berharap ada pengampunan dari-Nya. Namun, sebenarnya yang timbul adalah harap-harap cemas. Apakah Allah akan mengampuni kalau dosa ini terus berulang lagi?
Jika saja tidak ingat bahwa Allah Maha Pengampun, mungkin diri sudah putus asa. Astaghfirullaah.
Mulai besok, diri ini harus bisa menjadi lebih baik. Setidaknya besok bisa mengurangi jumlah dosa. Syukur-syukur bisa lebih bersabar, bisa lebih mengalah demi kebaikan diri dan juga menolong orang lain. Duh, alangkah senangnya bila bisa berbuat begitu. Tidak mencela terik matahari yang menyengat, tidak menggerutu pada kemacetan, bersabar dengan lampu merah, dan mengalah pada mereka yang belum mengerti. Insya Allah bisa.
Muharram tinggal sedikit lagi, awal masa hijrah ini masih belum memberikan perubahan berarti dalam diri menuju Insan Kamil. Bukan awal yang baik memang. Tapi perjuangan belum akan berakhir. Semoga masih ada waktu untuk melengkapi bekal. Dan kalaupun sudah tiba saat untuk pergi tak kembali, semoga saat itu benar-benar diri sudah dibersihkanNya dari segala dosa dengan Maha PengampunanNya. Amien.
Alhamdulillaahirabbil'aalamiin.


